Bang Zul :“Wah, apa iya yah?”
Adek Kecil :“Tapi kan ga semua bang zul !!”
Bang Zul :”Makanya judulnya abang tulis gitu, cenderung kan bisa juga ga to ?”
Adek Kecil :”Iya sih, tapi kebanyakan kayaknya emang bener !”
Bang Zul :”Tuh kan jadi situ yang benerin, makanya mau abang bahas sekarang”
Cuplikan diatas menggambarkan keingin tahuan seorang adek kecil dengan judul posting untuk kesempatan ini, tidak di baca sebenarnya tidak berdosa (hehe..)
Di kampung saya tinggal kehidupan masyarakatnya heterogen alias campur aduk, mungkin kebanyakan juga seperti itu jika hidup di kampung. Beda cerita kalo hidup di perumahan yang berjejer dengan orang-orang berduit, gaya hidup elit, kadang juga pelit ama tetangga sendiri ga akan dapet taste heterogennya. Justru dengan adanya bermacam-macam bentuk, sikap, perilaku, gaya hidup, kita bisa mengidentifikasi seperti apakah tetangga disekitar kita dalam menjalani hidupnya. Bisa membaca perilaku mereka sehari-hari hingga bisa menebak kecenderungan yang mereka lakukan.
Nah,kali ini saya mencoba mengamati kejadian di lingkungan saya, antara orang pinter dan yang pas-pasan saja. Kebetulan sample bahannya adalah kedua teman saya. Sebut saja Dudi dan Badu. Si Dudi adalah anak yang kedua orang tuannya adalah PNS, otomatis kehidupannya tidak begitu sulit, semua bisa dengan mudah ia dapatkan. Ia sekarang masih sekolah di PTN terkenal di Jogja. Dudi adalah contoh anak yang pinter. Nah, untuk yang pas-pasan saya pasang Badu, anak seorang Sopir Truk yang ga tentu dapet gajinya. Kita bertiga adalah teman akrab sejak anak-anak. Tidak ada yang memisahkan kita (ceileh…) beli permen bareng, nyuri jambu bareng, bahkan mandi kali bareng (wow…).
Hal unik yang membuat dua sahabat saya ini berbeda adalah perilaku mereka. Si Dudi sukanya diem diri di rumah, berkutat dengan buku-buku setebel bangku. Kadang suka kasihan sama otaknya, apa ga panas tuh orang tiap hari makan rumus mulu. Beda sama Badu yang bisa di gambarkan seperti bocah petualang(dibaca:ilang) dengan seabreg kegiatan yang sangat tidak jelas. Misalnya jika yang lain milih maen sepak bola, maka teman saya ini tidak segan menolak dan memilih untuk cari ikan di kali(padahal tuh kali lagi surut aernya). Kadang juga nyari botol-botol bekas untuk disulap menjadi gantungan pintu. Itulah kegiatan yang sama sekali bertolak belakang, antara buku dengan botol bekas (ga nyambung kan?).
Identifikasi yang kedua dari perilaku mereka adalah rasa sosial mereka dan sikapnya menanggapi kejadian di masyarakat. Contohnya waktu ada tugas ronda malem, sudah ketauan siapa yang rajin dan tidak (udah tahu belum?). Pasti kaliyan mengira Dudi yang superjenius dan kutu buku ? Ternyata salah besar sodara-sodara. Justru si Badu lah yang tidak pernah absent dari jadwal ronda malem. Sampe-sampe kebanyakan temennya bapak-bapak yang hobi maen kartu. Disini saya kagum pada si Badu karena sikap sosialnya begitu tinggi tidak hanya di ronda malem saja, tiap ada kerja bakti, kumpulan pemuda pasti ada tuh si Badu. Dan sudah bisa di perkirakan siapa yang slalu mangkir dari undangan, ya si Dudi. Kenapa yah ?
Manusia memang punya tipe-tipe kecerdasan yang berbeda-beda. Kalo saya amati si Dadu punya tipe kecerdasan yang memaksimalkan fungsi berpikirnya, sedangkan si Badu punya kecerdasan dengan sikap tanggapnya terhadap lingkungan sekitar sehingga muda sekali untuknya menyesuaikan diri dengan masyarakat.
Disitu lah saya simpulkan kalo orang pinter itu cenderung sulit bersosialisasi (kuper) dengan masyarakat. Butuh waktu cukup lama agar ia bisa di terima di lingkungannya. Mereka terlalu sibuk dan mencurahkan pikirannya dengan buku-buku ilmiah dan rumus-rumus keritingnya, hingga lupa untuk bersosialisasi lagi. Perasaan gugup, sungkan yang membuat mereka malas keluar rumah untuk sekedar berkumpul dengan teman mereka.
Untuk si Badu, sangatlah mudah mendapatkan perhatian dari masyarakat. Karena secara otomatis masyarakat menilai kalo Badu lebih aktif dan supel dalam aplikasinya di masyarakat. Itulah yang membuat mereka dengan mudah masuk di suatu kelompok. Kegiatan Badu yang tidak banyak menguras pikiran membuat waktunya terasa lebih luang untuk melakukan kegiatan lainnya, selain itu kegiatan sehari-hari yang ia lalukan juga hanya sesuai kehendaknya saja, tidak terpaut dengan waktu, aturan dll.
Memang banyak pelajaran akan kita temukan dengan hidup di tengah masyarakat yang heterogen(campur) antara si miskin dengan si kaya, si pinter dengan yang pas-pasan. Nilai nilai masyarakat itu lah yang kadang mengarahkan kita dengan kesimpulan-kesimpulan yang cukup masuk akal.
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 28 Februari 2010
Orang Pinter Cenderung Kuper ??
Bang Zul :“Wah, apa iya yah?”
Adek Kecil :“Tapi kan ga semua bang zul !!”
Bang Zul :”Makanya judulnya abang tulis gitu, cenderung kan bisa juga ga to ?”
Adek Kecil :”Iya sih, tapi kebanyakan kayaknya emang bener !”
Bang Zul :”Tuh kan jadi situ yang benerin, makanya mau abang bahas sekarang”
Cuplikan diatas menggambarkan keingin tahuan seorang adek kecil dengan judul posting untuk kesempatan ini, tidak di baca sebenarnya tidak berdosa (hehe..)
Di kampung saya tinggal kehidupan masyarakatnya heterogen alias campur aduk, mungkin kebanyakan juga seperti itu jika hidup di kampung. Beda cerita kalo hidup di perumahan yang berjejer dengan orang-orang berduit, gaya hidup elit, kadang juga pelit ama tetangga sendiri ga akan dapet taste heterogennya. Justru dengan adanya bermacam-macam bentuk, sikap, perilaku, gaya hidup, kita bisa mengidentifikasi seperti apakah tetangga disekitar kita dalam menjalani hidupnya. Bisa membaca perilaku mereka sehari-hari hingga bisa menebak kecenderungan yang mereka lakukan.
Nah,kali ini saya mencoba mengamati kejadian di lingkungan saya, antara orang pinter dan yang pas-pasan saja. Kebetulan sample bahannya adalah kedua teman saya. Sebut saja Dudi dan Badu. Si Dudi adalah anak yang kedua orang tuannya adalah PNS, otomatis kehidupannya tidak begitu sulit, semua bisa dengan mudah ia dapatkan. Ia sekarang masih sekolah di PTN terkenal di Jogja. Dudi adalah contoh anak yang pinter. Nah, untuk yang pas-pasan saya pasang Badu, anak seorang Sopir Truk yang ga tentu dapet gajinya. Kita bertiga adalah teman akrab sejak anak-anak. Tidak ada yang memisahkan kita (ceileh…) beli permen bareng, nyuri jambu bareng, bahkan mandi kali bareng (wow…).
Hal unik yang membuat dua sahabat saya ini berbeda adalah perilaku mereka. Si Dudi sukanya diem diri di rumah, berkutat dengan buku-buku setebel bangku. Kadang suka kasihan sama otaknya, apa ga panas tuh orang tiap hari makan rumus mulu. Beda sama Badu yang bisa di gambarkan seperti bocah petualang(dibaca:ilang) dengan seabreg kegiatan yang sangat tidak jelas. Misalnya jika yang lain milih maen sepak bola, maka teman saya ini tidak segan menolak dan memilih untuk cari ikan di kali(padahal tuh kali lagi surut aernya). Kadang juga nyari botol-botol bekas untuk disulap menjadi gantungan pintu. Itulah kegiatan yang sama sekali bertolak belakang, antara buku dengan botol bekas (ga nyambung kan?).
Identifikasi yang kedua dari perilaku mereka adalah rasa sosial mereka dan sikapnya menanggapi kejadian di masyarakat. Contohnya waktu ada tugas ronda malem, sudah ketauan siapa yang rajin dan tidak (udah tahu belum?). Pasti kaliyan mengira Dudi yang superjenius dan kutu buku ? Ternyata salah besar sodara-sodara. Justru si Badu lah yang tidak pernah absent dari jadwal ronda malem. Sampe-sampe kebanyakan temennya bapak-bapak yang hobi maen kartu. Disini saya kagum pada si Badu karena sikap sosialnya begitu tinggi tidak hanya di ronda malem saja, tiap ada kerja bakti, kumpulan pemuda pasti ada tuh si Badu. Dan sudah bisa di perkirakan siapa yang slalu mangkir dari undangan, ya si Dudi. Kenapa yah ?
Manusia memang punya tipe-tipe kecerdasan yang berbeda-beda. Kalo saya amati si Dadu punya tipe kecerdasan yang memaksimalkan fungsi berpikirnya, sedangkan si Badu punya kecerdasan dengan sikap tanggapnya terhadap lingkungan sekitar sehingga muda sekali untuknya menyesuaikan diri dengan masyarakat.
Disitu lah saya simpulkan kalo orang pinter itu cenderung sulit bersosialisasi (kuper) dengan masyarakat. Butuh waktu cukup lama agar ia bisa di terima di lingkungannya. Mereka terlalu sibuk dan mencurahkan pikirannya dengan buku-buku ilmiah dan rumus-rumus keritingnya, hingga lupa untuk bersosialisasi lagi. Perasaan gugup, sungkan yang membuat mereka malas keluar rumah untuk sekedar berkumpul dengan teman mereka.
Untuk si Badu, sangatlah mudah mendapatkan perhatian dari masyarakat. Karena secara otomatis masyarakat menilai kalo Badu lebih aktif dan supel dalam aplikasinya di masyarakat. Itulah yang membuat mereka dengan mudah masuk di suatu kelompok. Kegiatan Badu yang tidak banyak menguras pikiran membuat waktunya terasa lebih luang untuk melakukan kegiatan lainnya, selain itu kegiatan sehari-hari yang ia lalukan juga hanya sesuai kehendaknya saja, tidak terpaut dengan waktu, aturan dll.
Memang banyak pelajaran akan kita temukan dengan hidup di tengah masyarakat yang heterogen(campur) antara si miskin dengan si kaya, si pinter dengan yang pas-pasan. Nilai nilai masyarakat itu lah yang kadang mengarahkan kita dengan kesimpulan-kesimpulan yang cukup masuk akal.
Adek Kecil :“Tapi kan ga semua bang zul !!”
Bang Zul :”Makanya judulnya abang tulis gitu, cenderung kan bisa juga ga to ?”
Adek Kecil :”Iya sih, tapi kebanyakan kayaknya emang bener !”
Bang Zul :”Tuh kan jadi situ yang benerin, makanya mau abang bahas sekarang”
Cuplikan diatas menggambarkan keingin tahuan seorang adek kecil dengan judul posting untuk kesempatan ini, tidak di baca sebenarnya tidak berdosa (hehe..)
Di kampung saya tinggal kehidupan masyarakatnya heterogen alias campur aduk, mungkin kebanyakan juga seperti itu jika hidup di kampung. Beda cerita kalo hidup di perumahan yang berjejer dengan orang-orang berduit, gaya hidup elit, kadang juga pelit ama tetangga sendiri ga akan dapet taste heterogennya. Justru dengan adanya bermacam-macam bentuk, sikap, perilaku, gaya hidup, kita bisa mengidentifikasi seperti apakah tetangga disekitar kita dalam menjalani hidupnya. Bisa membaca perilaku mereka sehari-hari hingga bisa menebak kecenderungan yang mereka lakukan.
Nah,kali ini saya mencoba mengamati kejadian di lingkungan saya, antara orang pinter dan yang pas-pasan saja. Kebetulan sample bahannya adalah kedua teman saya. Sebut saja Dudi dan Badu. Si Dudi adalah anak yang kedua orang tuannya adalah PNS, otomatis kehidupannya tidak begitu sulit, semua bisa dengan mudah ia dapatkan. Ia sekarang masih sekolah di PTN terkenal di Jogja. Dudi adalah contoh anak yang pinter. Nah, untuk yang pas-pasan saya pasang Badu, anak seorang Sopir Truk yang ga tentu dapet gajinya. Kita bertiga adalah teman akrab sejak anak-anak. Tidak ada yang memisahkan kita (ceileh…) beli permen bareng, nyuri jambu bareng, bahkan mandi kali bareng (wow…).
Hal unik yang membuat dua sahabat saya ini berbeda adalah perilaku mereka. Si Dudi sukanya diem diri di rumah, berkutat dengan buku-buku setebel bangku. Kadang suka kasihan sama otaknya, apa ga panas tuh orang tiap hari makan rumus mulu. Beda sama Badu yang bisa di gambarkan seperti bocah petualang(dibaca:ilang) dengan seabreg kegiatan yang sangat tidak jelas. Misalnya jika yang lain milih maen sepak bola, maka teman saya ini tidak segan menolak dan memilih untuk cari ikan di kali(padahal tuh kali lagi surut aernya). Kadang juga nyari botol-botol bekas untuk disulap menjadi gantungan pintu. Itulah kegiatan yang sama sekali bertolak belakang, antara buku dengan botol bekas (ga nyambung kan?).
Identifikasi yang kedua dari perilaku mereka adalah rasa sosial mereka dan sikapnya menanggapi kejadian di masyarakat. Contohnya waktu ada tugas ronda malem, sudah ketauan siapa yang rajin dan tidak (udah tahu belum?). Pasti kaliyan mengira Dudi yang superjenius dan kutu buku ? Ternyata salah besar sodara-sodara. Justru si Badu lah yang tidak pernah absent dari jadwal ronda malem. Sampe-sampe kebanyakan temennya bapak-bapak yang hobi maen kartu. Disini saya kagum pada si Badu karena sikap sosialnya begitu tinggi tidak hanya di ronda malem saja, tiap ada kerja bakti, kumpulan pemuda pasti ada tuh si Badu. Dan sudah bisa di perkirakan siapa yang slalu mangkir dari undangan, ya si Dudi. Kenapa yah ?
Manusia memang punya tipe-tipe kecerdasan yang berbeda-beda. Kalo saya amati si Dadu punya tipe kecerdasan yang memaksimalkan fungsi berpikirnya, sedangkan si Badu punya kecerdasan dengan sikap tanggapnya terhadap lingkungan sekitar sehingga muda sekali untuknya menyesuaikan diri dengan masyarakat.
Disitu lah saya simpulkan kalo orang pinter itu cenderung sulit bersosialisasi (kuper) dengan masyarakat. Butuh waktu cukup lama agar ia bisa di terima di lingkungannya. Mereka terlalu sibuk dan mencurahkan pikirannya dengan buku-buku ilmiah dan rumus-rumus keritingnya, hingga lupa untuk bersosialisasi lagi. Perasaan gugup, sungkan yang membuat mereka malas keluar rumah untuk sekedar berkumpul dengan teman mereka.
Untuk si Badu, sangatlah mudah mendapatkan perhatian dari masyarakat. Karena secara otomatis masyarakat menilai kalo Badu lebih aktif dan supel dalam aplikasinya di masyarakat. Itulah yang membuat mereka dengan mudah masuk di suatu kelompok. Kegiatan Badu yang tidak banyak menguras pikiran membuat waktunya terasa lebih luang untuk melakukan kegiatan lainnya, selain itu kegiatan sehari-hari yang ia lalukan juga hanya sesuai kehendaknya saja, tidak terpaut dengan waktu, aturan dll.
Memang banyak pelajaran akan kita temukan dengan hidup di tengah masyarakat yang heterogen(campur) antara si miskin dengan si kaya, si pinter dengan yang pas-pasan. Nilai nilai masyarakat itu lah yang kadang mengarahkan kita dengan kesimpulan-kesimpulan yang cukup masuk akal.
Label:
argumen,
bodoh,
motivasi,
opini penulis,
penelitian,
pengamatan,
pintar,
update
Rabu, 24 Februari 2010
"Secuil Kisah Para Pejuang" (part I)
“Kok cuma secuil bang !”
“Lho, ada pepatah bilang : “secuil demi secuil lama-lama jadi segepok !”
Halo Kawan semua !
Percakapan diatas bukan termasuk dalam yang kita bahas teman. Permasalahannya bukan antara secuil ato segepok. Coba lihat dah judulnya, kita akan bahas cerita-cerita para perubah zaman yang walaupun cuma secuil tapi mudah-mudahan manfaatnya bisa bercuil-cuil sampe bergepok-gepok (lho knapa si cuil dan si gepok laris banget yak).
Franklin Delano Roosevelt
Pada usia 39 tahun, yakni tahun 1921 lelaki yang disebut oleh Oliver Wendell Holmes memiliki “kecerdasan kelas dua tetapi kematangan emosi kelas satu” ini terserang penyakit lumpuh hingga akhir hayatnya. Anggapan banyak orang, kelumpuhan bisa membuat mereka patah semangat, karamnya cita-cita. Akan tetapi tidak membuat sosok yang satu ini menyerah dan berdiam diri, dia mempunyai visi yang sangat besar yaitu mewujudkan perdamaian dunia yang tengah berkecamuk dilanda PD I.
“The show must go on!”
Begitulah yang selalu ia katakana, walaupun tertatih-tatih dan dengan bantuan kursi roda FDR tetap berjuang demi terwujudnya perdamaian sejati. Tahun 1932, ia dipilih sebagai presiden Amerika Serikat. Secara berturut-turut kembali dipilih 3 tahun berikutnya.
Dan salah satu bukti nyata keeksistensiannya di dunia dan tercatat dalam sejarah adalah ditandatanganinya Atlantic Charter tanggal 10 April 1945. Wow!!
Ternyata kelemahan dan kekurangan yang kita miliki bisa menjadi kekuatan yang luar biasa dalam hidup kita, jika kita memiliki semangat membara untuk mengejar cita-cita, mengubah hambatan jadi peluang, menembus keterpurukan dan terbang dengan segala kesuksesan bukan mustahil terjadi.
Jangan merasa diri kita lemah Kawan !!
Yuk lejitkan potensi raih prestasi.
“Lho, ada pepatah bilang : “secuil demi secuil lama-lama jadi segepok !”
Halo Kawan semua !
Percakapan diatas bukan termasuk dalam yang kita bahas teman. Permasalahannya bukan antara secuil ato segepok. Coba lihat dah judulnya, kita akan bahas cerita-cerita para perubah zaman yang walaupun cuma secuil tapi mudah-mudahan manfaatnya bisa bercuil-cuil sampe bergepok-gepok (lho knapa si cuil dan si gepok laris banget yak).
Franklin Delano Roosevelt
Pada usia 39 tahun, yakni tahun 1921 lelaki yang disebut oleh Oliver Wendell Holmes memiliki “kecerdasan kelas dua tetapi kematangan emosi kelas satu” ini terserang penyakit lumpuh hingga akhir hayatnya. Anggapan banyak orang, kelumpuhan bisa membuat mereka patah semangat, karamnya cita-cita. Akan tetapi tidak membuat sosok yang satu ini menyerah dan berdiam diri, dia mempunyai visi yang sangat besar yaitu mewujudkan perdamaian dunia yang tengah berkecamuk dilanda PD I.
“The show must go on!”
Begitulah yang selalu ia katakana, walaupun tertatih-tatih dan dengan bantuan kursi roda FDR tetap berjuang demi terwujudnya perdamaian sejati. Tahun 1932, ia dipilih sebagai presiden Amerika Serikat. Secara berturut-turut kembali dipilih 3 tahun berikutnya.
Dan salah satu bukti nyata keeksistensiannya di dunia dan tercatat dalam sejarah adalah ditandatanganinya Atlantic Charter tanggal 10 April 1945. Wow!!
Ternyata kelemahan dan kekurangan yang kita miliki bisa menjadi kekuatan yang luar biasa dalam hidup kita, jika kita memiliki semangat membara untuk mengejar cita-cita, mengubah hambatan jadi peluang, menembus keterpurukan dan terbang dengan segala kesuksesan bukan mustahil terjadi.
Jangan merasa diri kita lemah Kawan !!
Yuk lejitkan potensi raih prestasi.
"Secuil Kisah Para Pejuang" (part I)
“Kok cuma secuil bang !”
“Lho, ada pepatah bilang : “secuil demi secuil lama-lama jadi segepok !”
Halo Kawan semua !
Percakapan diatas bukan termasuk dalam yang kita bahas teman. Permasalahannya bukan antara secuil ato segepok. Coba lihat dah judulnya, kita akan bahas cerita-cerita para perubah zaman yang walaupun cuma secuil tapi mudah-mudahan manfaatnya bisa bercuil-cuil sampe bergepok-gepok (lho knapa si cuil dan si gepok laris banget yak).
Franklin Delano Roosevelt
Pada usia 39 tahun, yakni tahun 1921 lelaki yang disebut oleh Oliver Wendell Holmes memiliki “kecerdasan kelas dua tetapi kematangan emosi kelas satu” ini terserang penyakit lumpuh hingga akhir hayatnya. Anggapan banyak orang, kelumpuhan bisa membuat mereka patah semangat, karamnya cita-cita. Akan tetapi tidak membuat sosok yang satu ini menyerah dan berdiam diri, dia mempunyai visi yang sangat besar yaitu mewujudkan perdamaian dunia yang tengah berkecamuk dilanda PD I.
“The show must go on!”
Begitulah yang selalu ia katakana, walaupun tertatih-tatih dan dengan bantuan kursi roda FDR tetap berjuang demi terwujudnya perdamaian sejati. Tahun 1932, ia dipilih sebagai presiden Amerika Serikat. Secara berturut-turut kembali dipilih 3 tahun berikutnya.
Dan salah satu bukti nyata keeksistensiannya di dunia dan tercatat dalam sejarah adalah ditandatanganinya Atlantic Charter tanggal 10 April 1945. Wow!!
Ternyata kelemahan dan kekurangan yang kita miliki bisa menjadi kekuatan yang luar biasa dalam hidup kita, jika kita memiliki semangat membara untuk mengejar cita-cita, mengubah hambatan jadi peluang, menembus keterpurukan dan terbang dengan segala kesuksesan bukan mustahil terjadi.
Jangan merasa diri kita lemah Kawan !!
Yuk lejitkan potensi raih prestasi.
“Lho, ada pepatah bilang : “secuil demi secuil lama-lama jadi segepok !”
Halo Kawan semua !
Percakapan diatas bukan termasuk dalam yang kita bahas teman. Permasalahannya bukan antara secuil ato segepok. Coba lihat dah judulnya, kita akan bahas cerita-cerita para perubah zaman yang walaupun cuma secuil tapi mudah-mudahan manfaatnya bisa bercuil-cuil sampe bergepok-gepok (lho knapa si cuil dan si gepok laris banget yak).
Franklin Delano Roosevelt
Pada usia 39 tahun, yakni tahun 1921 lelaki yang disebut oleh Oliver Wendell Holmes memiliki “kecerdasan kelas dua tetapi kematangan emosi kelas satu” ini terserang penyakit lumpuh hingga akhir hayatnya. Anggapan banyak orang, kelumpuhan bisa membuat mereka patah semangat, karamnya cita-cita. Akan tetapi tidak membuat sosok yang satu ini menyerah dan berdiam diri, dia mempunyai visi yang sangat besar yaitu mewujudkan perdamaian dunia yang tengah berkecamuk dilanda PD I.
“The show must go on!”
Begitulah yang selalu ia katakana, walaupun tertatih-tatih dan dengan bantuan kursi roda FDR tetap berjuang demi terwujudnya perdamaian sejati. Tahun 1932, ia dipilih sebagai presiden Amerika Serikat. Secara berturut-turut kembali dipilih 3 tahun berikutnya.
Dan salah satu bukti nyata keeksistensiannya di dunia dan tercatat dalam sejarah adalah ditandatanganinya Atlantic Charter tanggal 10 April 1945. Wow!!
Ternyata kelemahan dan kekurangan yang kita miliki bisa menjadi kekuatan yang luar biasa dalam hidup kita, jika kita memiliki semangat membara untuk mengejar cita-cita, mengubah hambatan jadi peluang, menembus keterpurukan dan terbang dengan segala kesuksesan bukan mustahil terjadi.
Jangan merasa diri kita lemah Kawan !!
Yuk lejitkan potensi raih prestasi.
Kita Bisa Kalo Kita Bisa !!
“Pengen kuliah ?”
“Usaha dong !”
Jangan cuma duduk menanti hal yang belum pasti. Melamunkan hal yang bikin bingung. Ngikut teman karena gengsian. “Jangan dong ah !”
Ayo kejar cita-citamu cuy, raih mimpi lanjutkan perjuanganmu sebagai pencari ilmu sejati.
“Habis lulus, mau kuliah dimana?”
Hal yang sering dipertanyakan orang dan menduduki papan teratas pertanyaan yang paling sering dilontarkan kalau kita sudah lulus nanti Kawan. Kadang juga sering gerah sendiri kalau terlalu sering menjadi pertanyaan. Seperti reaksi alam yang terjadi berdasarkan suatu kejadian besar. Kayak tukang jual alat tulis kalau musim tahun ajaran baru. Kayak naeknya harga pensil 2B kalo dah seminggu sebelum UN. Benar-benar tidak bisa dihindari pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi jangan jawab “no comment mas/mbak!” Jangan!! Justru jawab dengan mantap dan berbangga hati Perguruan Tinggi mana yang jadi inceranmu, jurusan yang kamu minati. Biar orang lain secara tidak langsung menilai diri kita ini memang bisa kesana, memang mampu dan akan menjadi salah satu lulusan terbaik. Nah, dari situ akan timbul hubungan timbal balik antara lingkungan dan diri kita. Kita akan terpacu semangatnya karena sikap orang lain terhadap kita memang mendukung untuk melakukannya. Optimis Kawan!!
Jangan jawab kalo kita gak bisa, gak mampu, gak kuat mentalnya!! Aduh jangan dah. Karena itu sama saja menurunkan derajat kita di mata orang lain bahwa sebenernya kita bisa dan mampu tapi orang lain akan menganggap kita remeh. So, jangan pernah katakan ‘tidak’, ‘belum’, ‘wah,mau langsung nikah aja’ buang jauh-jauh kalo perlu di kunci mati dipikiran kita, trus kuncinya dibuang ke laut. (hehe…)
Kita bisa karena diri kita mengatakan bisa, sebaliknya kita lemah kalo diri kita mengatakan lemah. Ini bukan hipnotisme ato semacamnya, hanya memotivasi dan memberi sugesti (kayak Romy Rafael aja) positif ke dalam diri Kawan-kawan semua. OK?
Mulai sekarang tata rapi semua rencana masa depan kamu. Benahi diri, siapkan amunisi, bidik yang kamu cari trus tembakkan peluru prestasi. Insya Allah kaliyan bisa!!^^
All rights Reserved by ©Zulp
“Usaha dong !”
Jangan cuma duduk menanti hal yang belum pasti. Melamunkan hal yang bikin bingung. Ngikut teman karena gengsian. “Jangan dong ah !”
Ayo kejar cita-citamu cuy, raih mimpi lanjutkan perjuanganmu sebagai pencari ilmu sejati.
“Habis lulus, mau kuliah dimana?”
Hal yang sering dipertanyakan orang dan menduduki papan teratas pertanyaan yang paling sering dilontarkan kalau kita sudah lulus nanti Kawan. Kadang juga sering gerah sendiri kalau terlalu sering menjadi pertanyaan. Seperti reaksi alam yang terjadi berdasarkan suatu kejadian besar. Kayak tukang jual alat tulis kalau musim tahun ajaran baru. Kayak naeknya harga pensil 2B kalo dah seminggu sebelum UN. Benar-benar tidak bisa dihindari pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi jangan jawab “no comment mas/mbak!” Jangan!! Justru jawab dengan mantap dan berbangga hati Perguruan Tinggi mana yang jadi inceranmu, jurusan yang kamu minati. Biar orang lain secara tidak langsung menilai diri kita ini memang bisa kesana, memang mampu dan akan menjadi salah satu lulusan terbaik. Nah, dari situ akan timbul hubungan timbal balik antara lingkungan dan diri kita. Kita akan terpacu semangatnya karena sikap orang lain terhadap kita memang mendukung untuk melakukannya. Optimis Kawan!!
Jangan jawab kalo kita gak bisa, gak mampu, gak kuat mentalnya!! Aduh jangan dah. Karena itu sama saja menurunkan derajat kita di mata orang lain bahwa sebenernya kita bisa dan mampu tapi orang lain akan menganggap kita remeh. So, jangan pernah katakan ‘tidak’, ‘belum’, ‘wah,mau langsung nikah aja’ buang jauh-jauh kalo perlu di kunci mati dipikiran kita, trus kuncinya dibuang ke laut. (hehe…)
Kita bisa karena diri kita mengatakan bisa, sebaliknya kita lemah kalo diri kita mengatakan lemah. Ini bukan hipnotisme ato semacamnya, hanya memotivasi dan memberi sugesti (kayak Romy Rafael aja) positif ke dalam diri Kawan-kawan semua. OK?
Mulai sekarang tata rapi semua rencana masa depan kamu. Benahi diri, siapkan amunisi, bidik yang kamu cari trus tembakkan peluru prestasi. Insya Allah kaliyan bisa!!^^
All rights Reserved by ©Zulp
Kita Bisa Kalo Kita Bisa !!
“Pengen kuliah ?”
“Usaha dong !”
Jangan cuma duduk menanti hal yang belum pasti. Melamunkan hal yang bikin bingung. Ngikut teman karena gengsian. “Jangan dong ah !”
Ayo kejar cita-citamu cuy, raih mimpi lanjutkan perjuanganmu sebagai pencari ilmu sejati.
“Habis lulus, mau kuliah dimana?”
Hal yang sering dipertanyakan orang dan menduduki papan teratas pertanyaan yang paling sering dilontarkan kalau kita sudah lulus nanti Kawan. Kadang juga sering gerah sendiri kalau terlalu sering menjadi pertanyaan. Seperti reaksi alam yang terjadi berdasarkan suatu kejadian besar. Kayak tukang jual alat tulis kalau musim tahun ajaran baru. Kayak naeknya harga pensil 2B kalo dah seminggu sebelum UN. Benar-benar tidak bisa dihindari pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi jangan jawab “no comment mas/mbak!” Jangan!! Justru jawab dengan mantap dan berbangga hati Perguruan Tinggi mana yang jadi inceranmu, jurusan yang kamu minati. Biar orang lain secara tidak langsung menilai diri kita ini memang bisa kesana, memang mampu dan akan menjadi salah satu lulusan terbaik. Nah, dari situ akan timbul hubungan timbal balik antara lingkungan dan diri kita. Kita akan terpacu semangatnya karena sikap orang lain terhadap kita memang mendukung untuk melakukannya. Optimis Kawan!!
Jangan jawab kalo kita gak bisa, gak mampu, gak kuat mentalnya!! Aduh jangan dah. Karena itu sama saja menurunkan derajat kita di mata orang lain bahwa sebenernya kita bisa dan mampu tapi orang lain akan menganggap kita remeh. So, jangan pernah katakan ‘tidak’, ‘belum’, ‘wah,mau langsung nikah aja’ buang jauh-jauh kalo perlu di kunci mati dipikiran kita, trus kuncinya dibuang ke laut. (hehe…)
Kita bisa karena diri kita mengatakan bisa, sebaliknya kita lemah kalo diri kita mengatakan lemah. Ini bukan hipnotisme ato semacamnya, hanya memotivasi dan memberi sugesti (kayak Romy Rafael aja) positif ke dalam diri Kawan-kawan semua. OK?
Mulai sekarang tata rapi semua rencana masa depan kamu. Benahi diri, siapkan amunisi, bidik yang kamu cari trus tembakkan peluru prestasi. Insya Allah kaliyan bisa!!^^
All rights Reserved by ©Zulp
“Usaha dong !”
Jangan cuma duduk menanti hal yang belum pasti. Melamunkan hal yang bikin bingung. Ngikut teman karena gengsian. “Jangan dong ah !”
Ayo kejar cita-citamu cuy, raih mimpi lanjutkan perjuanganmu sebagai pencari ilmu sejati.
“Habis lulus, mau kuliah dimana?”
Hal yang sering dipertanyakan orang dan menduduki papan teratas pertanyaan yang paling sering dilontarkan kalau kita sudah lulus nanti Kawan. Kadang juga sering gerah sendiri kalau terlalu sering menjadi pertanyaan. Seperti reaksi alam yang terjadi berdasarkan suatu kejadian besar. Kayak tukang jual alat tulis kalau musim tahun ajaran baru. Kayak naeknya harga pensil 2B kalo dah seminggu sebelum UN. Benar-benar tidak bisa dihindari pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi jangan jawab “no comment mas/mbak!” Jangan!! Justru jawab dengan mantap dan berbangga hati Perguruan Tinggi mana yang jadi inceranmu, jurusan yang kamu minati. Biar orang lain secara tidak langsung menilai diri kita ini memang bisa kesana, memang mampu dan akan menjadi salah satu lulusan terbaik. Nah, dari situ akan timbul hubungan timbal balik antara lingkungan dan diri kita. Kita akan terpacu semangatnya karena sikap orang lain terhadap kita memang mendukung untuk melakukannya. Optimis Kawan!!
Jangan jawab kalo kita gak bisa, gak mampu, gak kuat mentalnya!! Aduh jangan dah. Karena itu sama saja menurunkan derajat kita di mata orang lain bahwa sebenernya kita bisa dan mampu tapi orang lain akan menganggap kita remeh. So, jangan pernah katakan ‘tidak’, ‘belum’, ‘wah,mau langsung nikah aja’ buang jauh-jauh kalo perlu di kunci mati dipikiran kita, trus kuncinya dibuang ke laut. (hehe…)
Kita bisa karena diri kita mengatakan bisa, sebaliknya kita lemah kalo diri kita mengatakan lemah. Ini bukan hipnotisme ato semacamnya, hanya memotivasi dan memberi sugesti (kayak Romy Rafael aja) positif ke dalam diri Kawan-kawan semua. OK?
Mulai sekarang tata rapi semua rencana masa depan kamu. Benahi diri, siapkan amunisi, bidik yang kamu cari trus tembakkan peluru prestasi. Insya Allah kaliyan bisa!!^^
All rights Reserved by ©Zulp
Langganan:
Postingan (Atom)